Parenting

Cara Membuat Bumbu Dasar Putih Praktis


Kegiatan (Merenung) Berfaedah ala Adhiyaksa’s

Anak Kupas Bawang Merah
Adek bantuin kupas bawang merah.

“Dek, mau bantuin Bunda kupasin bawang putih ini?” Saya menawarkan kegiatan kepada bocah 3 tahun yang lagi asyik lari-lari.

Si bocah terdiam sebentar lalu teriak, “Mau!”

Yay, jadi Senin kami adalah hari membuat bumbu dasar. Kenapa sih malah bikin bumbu pas awal minggu, bukannya pas akhir minggu biar Seninnya bisa langsung masak? Baiklah, saya izin mengungkapkan sesuatu pada kalian.

Sabtu, 17 November 2018 pukul 9:24 WIB. Bocahku terbaring di kasur. Badannya serupa panci yang baru saja selesai menjerang air. Saya galau. Duh, demam ya Allah. Cepat-cepat saya cari termometer merah di laci lemari. Setelah beberapa menit menunggu, angka 39 koma membuat saya syok.

“Aku kudu kepriwe?”

Jujur, saya lupa merawat anak demam dengan teknik apa saja. Saya hanya ingat paracetamol, memberi cairan yang banyak plus berendam air hangat. Tapi, teknik itupun samar-samar saat saya merecall lagi ingatan saya.

Seharian anak saya demam. Enggak langsung saya bawa periksa sih. Menurut IDAI, anak di atas 36 bulan ditunggu sampai 3 hari perkembangannya. Jika masih demam, bisa langsung di bawa ke dokter. Namun, jika suhunya sudah 40 atau lebih, sebaiknya langsung diperiksa. Nah, saya rawat dulu di rumah nih. Qodarullah, esok paginya anak saya kembali dalam suhu normal.

Nah, karena dalam hasilnya semua anak akan berbeda ya, jadi kisah saya tidak bisa jadi pegangan. Yang mau saya bagi di sini adalah alasan anak bisa demam. Sebenarnya sih, cuma Allah yang tahu kebenarannya. Tapi, saya sebagai ibunya jadi banyak merenung. Muhasabah diri. Ikhtiar apa yang belum saya jalankan ya selama ini? Bisa jadi kan, sakit anak saya itu teguran bagi saya dan suami.

Di dalam perenungan, qodarullah uang yang tersisa tinggal beberapa. Kalau dihitung secara hitungan manusia, hanya bisa dipakai untuk satu hari makan. Hayoloh, anak baru sembuh eh dapat ujian lagi. uang yang saya rencanakan untuk hidup bulan ini sudah saya pakai untuk membeli makanan kesukaan anak pas sakit. Kalau kata teman saya, memuliakan anak sama dengan memuliakan Pencipta-Nya. Jadi, bagaimana saya merencanakan uang yang hanya bisa sehari jadi seminggu? Tunggu ya, saya belum ketik. Hahaha. Ngetik cara membuat bumbu dasar dulu, biar yang tanya-tanya tinggal baca saja di sini.

Yuk Siapkan Diri Bebikin Bumbu

Bumbu dasar putih ini saya buat karena saya ingin lebih praktis dalam memasak. Kalau yang saya tahu dari cerita mamak lain, bumbu ini ajaib. Bisa jadi bumbu dasar sebagian masakan Indonesia. Duh, sampai sini saya udah enggak tahan lagi buat berbagi. Nah, kalian tau kan, memasak itu lumayan bikin ngos-ngosan dalam meracik bumbu? Jadi, selain menghemat tenaga, saya juga ingin memasak praktis yang nantinya bisa dimakan anak dan suami. Saat kebutuhan dasar (makanan) terpenuhi, saya yakin Allah akan meridai saya dengan doa-doa dari suami dan anak. Meleleh!

Alhamdulillah, semua bahan untuk membuat bumbu tersedia, kecuali kemiri 100 gram ding! Yuk, saya bocorkan resepnya ya. Resep ini saya ambil dari tulisan MakYas di cookpad.com (link) dengan sedikit modifikasi.

Bahan-bahan:

  1. Bawang merah 250 gram
  2. Bawang putih 150 gram
  3. Kemiri sangrai 112 gram
  4. Ketumbar bubuk 26 gram
  5. Merica 1 sendok makan
  6. Garam 1 sendok makan
  7. Air 200 ml (saya pakai gelas belimbing)
  8. Minyak untuk menumis (kira-kira)

Untuk penimbangannya, saya pakai timbangan ini nih.

img_20181120_020030
Timbangan dapur legend bertuliskan si bungsu

Oke next alat-alatnya. Ini penting saya pisah dari bahan karena saya pas awal bikin bingung. Kudu pake blender macam mana? Dll.

Alat-alat:

  1. Mangkok 2 buah (satunya buat wadah bawang yang belum dikupas, satunya buat sampah kulitnya. Ini penting bagi saya. Saya lagi ngumpulin sampah organik buat pupuk organik).
  2. Pisau
  3. Blender dengan jar ukuran besar (yang biasa dipakai ngejus, tadinya mau pakai yang khusus bumbu tapi ternyata enggak muat).
  4. Wajan teflon
  5. Gelas belimbing (mengukur volume air)
  6. Alat penimbang

Oke, setelah semua bahan dan alat terkumpul, dengan basmallah saya mulai ngeraciknya. Untuk bawang putih sudah dikupas pas saya beli di pasar. Bawang merah saya kupas dulu dibantu sama anak. lumayan pegel ternyata ngupas 250 gram bawang putih. Jadi saran saya, kalau ada yang sudah kupasan, mending yang itu saja.

Cara Buat:

  1. Sangrai sebentar kemiri di atas Teflon sampai warnanya kecoklatan.
  2. Masukkan bahan nomor 1-7 ke dalam jar dan blend.
  3. Saat semua bahan sudah tercampur, panaskan teflon yang sudah terisi minyak untuk menumis.
  4. Panaskan dengan api sedang. Jika sudah panas, masukkan bahan campuran tadi ke dalamnya.

    img_20181119_181648.jpg
    Apinya sedang saja, biar enggak gosong. Sambil diaduk ya!
  5. Masak sampai kering (tandanya bahan bumbu sudah tidak meletup-letup).
  6. Saat memasak, sering-seringlah mengaduk bahan agar bagian bawahnya tidak gosong.
  7. Setelah selesai, pindahkan langsung ke wadah yang terbuka agar lekas dingin.
  8. Simpan bahan yang sudah matang ke dalam jar kecil (ini lebih praktis memasukkannya namun kemungkinan terkontaminasinya besar) atau plastik klip (bisa diambil satu bungkus untuk satu kali pemasakkan, namun memasukannya penuh perjuangan).

    img_20181119_195423
    Nah, ini hasil bumbu matang yang bikin pegel tapi mengasyikkan. Lebih suka masukin jar atau plastik klip, nih?
  9. Bahan yang sudah masuk kulkas bisa bertahan 1 bulan (atau malah lebih jika masuk ke freezer).

Bikin, Yay or Nay?

Setelah lama merenung, akhirnya saya menghasilkan satu bumbu dasar ini. sebenarnya, dulu saya pernah bikin baceman bawang putih yang pengerjaannya lebih praktis. Enggak perlu pakai numis, Cuma geprek dan tuang minyak saja. Tapi, saya pengen coba, siapa tahu bumbu dasar ini lebih jos rasanya. Kapan-kapan saya review deh penggunaannya untuk apa saja dan tahan berapa bulan di kulkas saya.

Setelah baca tulisan saya, mau coba enggak kira-kira nih bumbu dasar putih ajaib ini?

Boleh banget nanya-nanya ya yang belum dimengerti di kolom komentar.

Tulisan by @dhita_erdittya

Foto by @dhita_erdittya (HP Xiaomi Note 3)

Iklan
Parenting

Nyawah Sembari Makan di Omah Sawah Tembi


 

img_20181101_163748

“Menikmati pematang sawah, hamparan hijau padi, diikuti semilir angin segar. Pekik gembira anak-anak, meloncat dengan riang di atas susunan bambu. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?”

Hari itu, aku ingat sekali riuhnya perjalanan kami. Bocah tiga tahun dengan keaktifannya bertanya ini, mengalahkan kekritisanku.

“Nda, kita mau ke mana?”

“Mau makan di restoran. Restorannya dekat sawah loh, Dek.”

“Wah, makan.”

“Sama temen Adek juga.”

Dia pun bergembira di sepanjang perjalanannya. Jarak tempuh 10 kilometer dari pondokan kami, tak terasa. Alhamdulillah, kali ini saya mendapat undangan dari Omah Sawah Tembi. Kalau kata Adek mau icip-icip makanan di sana. Lokasi restoran bertema pedesaan ini dekat dengan Rumah Budaya Tembi. Dari sana, kita tinggal menuju ke timur sekitar 100 meter. Jika kalian menemukan pertigaan ke selatan dengan plang hitam bertuliskan Omah Sawah Tembi, silakan menyalakan lampu sein belok kanan. Tak jauh dari situ, sekitar 400 meter, di kanan jalan terpampang plang besar berwarna hijau Omah Sawah Tembi.

Awalnya, saya kesasar! Diundang pukul 15:00 WIB, saya datang setengah jam sebelumnya. Atas arahan teman yang rumahnya di sekitaran situ, saya dengan pedenya masuk ke salah satu restoran dengan nama sama. Jadi, ikutilah denah yang tadi saya kasih ya. Jangan sampe ikutan kesasar macam saya! Hehehe.

img_20181101_173115

Masuk ke area parkiran, bangunan memanjang ke belakang ini menyuguhkan keindahan. HIJAU di sekelilingnya! Benar-benar dikepung oleh sawah. Area parkirannya luas. Bisa diisi empat mobil dan sekitar 20 motor. Masuk ke area resto, hamparan halaman hijau rumput dengan kursi-kursi besi hitam menyapa. Bocahku mulai bergerilya. Didapatkannya kuda-kudaan dan truk kayu yang disediakan pihak resto.

img_20181101_163843

“Nda, gajah!” tunjuknya sambil berteriak.

MasyaAllah, gajah siapa itu di tengah sawah? Ternyata, pihak resto sengaja menaruh patung gajah di tengah-tengah sawah. Agak jauh dari resto, jalan sekitar 100 meter melewati pematang sawah. Saya jadi teringat masa kecil saya saat Mbah Kakung mengajak jalan. Iya, jalan-jalannya ke tempat kerjanya. Sawah! Rasanya senang sekali menjejaki pematang. Apalagi saat pematangnya basah, harus ekstra pelan-pelan jalannya. Lalu, saya akan duduk di pinggir dan melihat Mbah Kakung mencangkuli sawah. Kejadian ini sudah bepuluh-puluh tahun lalu, namun sangat membekas di ingatan.

Semoga, begitu juga dengan bocahku ini. Walau dulu saat masih ngontrak di pondokan dekat sawah, kami juga sering duduk di tepi pematang. Tapi suasana yang ada di resto ini lain. Kekinian banget namun diselingi hal-hal indah tentang sawah.

Selesai briefing, kami dipersilakan mengabadikan suasana resto dan makanan. Enaknya, kami bisa mencicipinya. Ada juga demo membuat sambal matah dari Tupperware. Gilak! Bikin sambal senikmat main gangsing. Bahkan, bocahku juga ikutan bikin tanpa kesulitan.

Icip-icip Time!

IMG_20181101_162909[1]

Setelahnya, acara yang sangat dinanti-nantikan bocahku. MAKAN! Kami mengantre di area prasmanan. Mengambil piring putih yang lebar, saya memutuskan untuk mengambil porsi makan untuk 2 orang. Saya mengambil lele santan, ayam santan, papaya rebus rempah dan telur gulung. Si bocah makan telur gulung yang tidak pedas. Eh malah minta tambah saking enaknya. Telurnya lembut dan enggak bikin enek. Kalau untuk sayur pepayanya bahkan enggak terasa pahit. Pas di lidah semua.

IMG_20181101_163335[1]

Oya, makanan yang paling favorit di resto ini adalah nasi goreng hijau sawah. Dengan sambal matah di atasnya, makanan ini yang paling direkomendasikan di sini. Untuk pemesanan, bisa pakai paketan. Resto ini juga lumayan lengkap. Ada wastafel dan WC juga. Untuk keluarga, resto ini bisa jadi tempat berkumpul setelah bosan dengan rutinitas. Yuk saatnya melihat hijaunya pemandangan biar pikiran fresh!

IMG_20181101_163001[1]

All pictures by @dhita_erdittya

Lokasi: Omah Sawah Tembi

 

Parenting, Social

Salam dari Temu Inklusi 2018 untuk Indonesia Inklusif


IMG_20181024_141129.jpgMas Eko, meracik kopi di booth Barista Inklusi

“Bunda, Om ini enggak punya tangan?” Si bungsu menanyai saya lagi. Matanya melebar, dia takjub melihat video seorang Om, salah satu difabel yang meracik kopi saat temu inklusi, bisa membuat kopi.

“Hebat ya, Nda!” begitu katanya. Inilah oleh-oleh berharga bagi saya saat diundang ke sebuah acara. Pengalaman dan hikmah yang menyertainya. Untuk apa? Untuk saya bagi lagi dengan orang-orang di sekitar saya. Termasuk anak-anak.

Pagi sebelum cahaya mentari menggerogoti, saya berjalan keluar rumah. Melewati gang demi gang, lalu berbelok ke kanan. Di depan masjid dekat rumah, saya menunggu Mas ojek online datang menjemput. Ya, hari itu saya akan pergi sendiri. Jalan-jalan tipis sementara waktu. Saya dan beberapa kawan blogger diundang dalam sebuah acara akbar pada tanggal 24 Oktober 2018. Temu Inklusi 2018 ke-3 di desa Plembutan, Gunungkidul yang berlangsung dari tanggal 22 sampai 26Oktober 2018 ini.

Berbekal tas biru tua rajutan dan ransel abu-abu, saya menapakkan kaki di parkiran Abu Bakar Ali. Di sanalah meeting point kami. Sebuah mobil long body berplat AB menanti kami berkumpul. Mobil dan pak supir ini akan membawa kami ke daerah baru. Bismillah, starter mobil dinyalakan dan kami pun jalan.

Sebelum sampai tempat, saya sudah sedikit riset tentang inklusi difabilitas. Tadinya saya hanya paham apa itu disabilitas. Nah, sebenarnya apa itu difabilitas? Apa bedanya dengan disabilitas?

Difabilitas dan Disabilitas, Bedanya Apa?

IMG_20181024_085014

Acara Temu Inklusi #3 di Desa Plembutan

Difabilitas berasal dari bahasa Inggris yaitu difable (different ability-kemampuan berbeda). Dalam Wikipedia.org yaitu seseorang yang memiliki kemampuan dalam menjalankan aktivitas berbeda bila dibandingkan dengan orang-orag kebanyakan. Dalam hal ini, bukan berarti cacat atau disabled ya. Nah, untuk disabilitas sendiri berasal dari kata disability yaitu seseorang yang belum mampu berakomodasi dengan lingkungan sekitarnya.

Jadi kalau bisa saya perjelas, kata difabilitas itu lebih smooth. Memperhalus kata disabilitas yang asalnya ketidakmampuan tubuh sebagaimana orang normal. Difable yang merupakan akronim different abilities ini ditujukan untuk menyebut orang-orang yang memiliki kelainan dan kekurangan fisik. Di ranah internasional kata disability ini masih mengundang kontroversi, maka seringnya mereka memakai kata-kata people with mobility problem, dll.

Di balik semua kontroversi tersebut, acara temu inklusi ketiga ini hadir membuka cakrawala luas kepada khalayak ramai. Temu inklusi yang diadakan di desa Plembutan, Kecamatan Playen, Gunungkidul ini adalah acara yang menyebarkan tentang inklusi kepada stakeholder, baik pmerintah daerah, pemerintah pusat juga LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

Acara dua tahunan ini diinisiasi oleh Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB). Acara yang diselenggarakan di desa Plembutan ini karena menjadi desa menuju inklusi sosial #IDInklusif. Dilihat dari pembangunan gedung balai desa yang bertema inklusi seperti jalan masuk kursi roda dan toilet geser yang mudah untuk dimasuki kursi roda.

Media dan Difabilitas

IMG_20181024_090556

Di balai Dukuh Papringan, Forum Diskusi Media dan Difabilitas diselenggarakan

Forum diskusi yang diselenggarakan oleh temu inklusi ini ada banyak tema. Kami dibagi menjadi tiga grup kecil untuk mengikuti tiga tema. Saya kebagian mengikuti tema Media dan Difabilitas. Dalam forum diskusi ini saya ketemu pembicara keren-keren. Ada mas Ken Karta founder dari Lingkarsosial.org  asal Malang dan dari pihak AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) ada Mas Tomi. Forum berjalan lancar dan kami mendapatkan banyak hikmah dari sana.

IMG_20181024_092215

Mas Ken Kerta sedang membagikan pengalamannya membuat media khusus isu difabilitas.

Media saat ini banyak menampilkan hal-hal yang berhubungan dengan mayoritas (umum). Para difabilitas yang notabene adalah masyarakat minoritas kurang mendapat sorot. Untuk memberi informasi akan difabel, media bisa menjadi salah satu sarana tercepat menyebarkan isu-isu ini. maka, media bisa digunakan untuk menyuarakannya. Berawal dari sanalah Mas Ken Kerta memberitakan isu-isu difabilitas. Laman lingkarsosial.org adalah media yang aktif memberitakan hal ini.

Namun sayangnya, para difabilitas masih merasa kurang bersahabat dengan media. Merasa kurang percaya diri membagikan apa-apa yang menjadi inspirasi dan hikmah dari dirinya. Maka dari forum diskusi tersebut, kami semua mengharapkan dari stakeholder mampu memfasilitasi para difabilitas untuk bisa menyuarakan dan memberi tahu akan kehidupannya dari media. Entah dalam pelatihan khusus teknologi informasi untuk para difabilitas atau membuat gebrakan-gebrakan baru dalam mendukung para minoritas.

Aliansi Jurnalis Indonesia yang diwakili Mas Tomi membagikan informasi tentang kegiatan para jurnalis memberitakan isu terkini. AJI juga sudah sering wara-wiri berdiskusi dengan para difabilitas. Ada hal-hal yang memang harus mendapat perhatian untuk stakeholder menyikapi isu difabiltas. Para difabel pun di-support untuk tak lelah berjuang menyuarakan haknya. Media yang bisa dipakai bisa dari blog gratisan, dan media sosial seperti facebook, instagram atau twitter.

Bahwa yang Kita Lihat Kurang, Itulah yang Lebih

IMG_20181024_141303

Booth Barista Inklusi #IDInklusif

Seperti hukum keseimbangan dalam ilmu alam, bahwa suatu energi yang mengalir ke tempat yang kurang untuk membuat lingkungannya seimbang. Seperti itu juga para difabel yang saya temui. Mereka yang saya kira tak mampu menafkahi dengan cara yang orang normal lakukan, ternyata bisa membuat kopi yang nikmatnya lebih dari yang bsia saya buat. Hahaha.

Di salah satu booth yang disediakan, saya memasuki Barista Inklusif. Sebuah booth yang menyediakan kopi yang diracik dari biji kopi giling dan mempunyai tagar #KarenaKopiKitaSetara. Dengan kedua lengannya, dia sibuk menyiapkan gelas-gelas platik. Seorang temannya menimbang biji kopi yang nantinya akan digiling. Mas Eko dengan sigap menuang air kopi yang telah digiling dan menambahkan susu.

Saya memesan kopi V-60 dengan es dan susu. Sungguh nikmat di tengah teriknya mentari siang itu. Kami para pembeli, duduk di depan booth #BaristaInklusif menanti Mas Eko meracik satu demi satu pesanan kami tanpa lelah. Barista inklusi ini sendiri adalah program kerja sama dari Program Peduli (www.programpeduli.org), @staracoffee dan Pusat Rehabilitasi Yakkum Yogyakarta. Mas Eko merupakan salah satu peserta dari pelatihan program tersebut.

Seperti yang anak saya katakan, bahwa Mas Eko tadi hebat. Tidak seperti kami yang memiliki tangan utuh dengan jari-jarinya. Mas Eko berjuang berkarya dengan lengannya tanpa lelah. Bahwa apa yang Allah firmankan itu benar adanya. Dia takkan memberikan sesuatu yang hamba-Nya tak mampu. Seperti itulah, keterbatasannya tak menyurutkan langkahnya meracik kopi. Bahwa beliau mampu, dengan semua kelebihannya yang tidak semua orang punya. Tekad yang kuat.

Menuju Masyarakat Inklusi

Dari semua hal yang sudah saya dapatkan dari acara ini, masyarakat inklusi itu nyata. Walaupun ranahnya seperti bayi yang belajar berjalan. Pelan-pelan dan bertahap demi langkahnya yang pasti. Ada harapan besar di sana, di mana nantinya dunia ini mengakui ada difabilitas.

Di mana nantinya semua memberikan trotoar yang ramah difabel, ketersediaannya jalan ramah difabel dan banyak fasilitas yang mendukungnya. Bahwa perbedaan itu bukan untuk dihindari, tapi untuk dirangkul. Bahwa kita semua setara, apapun latar belakangnya.

Parenting

7 Cara Unik Menyapih ala Indonesia Ini Terkesan Horor


Pernah terbit di Bernas.id – Yogyakarta

IMG_20181021_130802
Akhtar di Playground Perpustakaan Grhatama Yogyakarta

Indonesia sering terkenal dengan keunikannya. Dengan beragam suku, bahasa, dan agama menyebabkan munculnya kebiasaan yang bikin geleng-geleng kepala. Dari makanan unik yang pastinya sudah menjadi khasnya Indonesia, istilah unik yang digunakan masyarakat Indonesia, ada pula cara unik yang dipakai para nenek moyang untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya mengasuh anak. Banyak sekali mitos yang beredar di kalangan orang tua sebagai solusi parenting. Nyatanya, mitos tak semuanya buruk. Kemunculannya tak jauh dari perkembangan cara berpikir masyarakat saat itu. Misalnya, seseorang  dilarang duduk di depan pintu karena dapat membuatnya sakit. Bila dipikir lebih jauh, duduk di depan pintu akan menghalangi orang yang akan lewat. Seperti mitos, cara-cara kuno untuk mengasuh anak sampai saat ini juga masih beredar.  Salah satunya tentang cara para ibu menyapih anaknya dengan memakai hal-hal yang unik.

Menyapih dimaksudkan menghentikan anak menyusu. Selama ini, proses penyapihan difokuskan hanya soal anak, terutama tentang cara agar anak berhenti menyusu. Padahal, bagi para ibu, pemberian ASI kepada anaknya tidak hanya soal kebutuhan perut. Lebih dari itu, memberi ASI menciptakan ikatan batin antara ibu dan anak. Kadang anak rewel saat menyusu dikarenakan ibunya sedang memikirkan masalah.

Menyapih tidak segampang pengertiannya. Menghetikan anak menyusu melewati banyak proses. Anak yang rewel, ibu yang tidak sabar, dan ilmu yang kurang dan akhirnya berujung pada penyapihan yang terhambat. Cara-cara unik yang dapat dipakai pun akhirnya bermunculan. Di bawah ini, terdapat tujuh cara unik menyapih ala Indonesia yang terkesan horor.

1. Dioles lipstik

Cara pertama ini yang sering dipakai oleh ibu untuk membuat anaknya berhenti meyusu. Lipstik yang berwarna merah dioles disekitar puting. Ibu akan memberi tahu sang anak bahwa ibunya sakit dengan menunjukkan warna merah di putingnya.

2. Dioles empedu ikan

Ini merupakan strategi dengan memberi rasa pada putting, dan diharapkan anak menjadi tidak mau menyusu karena pahit. Selain empedu ikan, brotowali dapat menjadi cara lain meberi rasa pahit.

3. Dipasang plester

Seperti cara pertama, plester memberi kesan bahwa terdapat luka di puting dan anak tidak dapat menyusu lagi.

4. Diberi obat merah

Biasanya, untuk memberi kesan kuat, pemakaian kapas yang diberi obat merah akan ditambah untuk cara nomer tiga.

5. Dioles sambal

Mengoles sambal dapat menimbulkan rasa pedas. Anak-anak biasanya tidak suka kepedasan, maka cara ini dapat dipakai agar anak kapok menyusu.

6. Olesi dengan minyak kayu putih

Cara ini hampir sama dengan cara nomor lima. Rasa kuat di minyak kayu putih akan membuat anak berhenti menyusu.

7. Menempelkan celana dalam kotor suami

Ini cara terekstrem dan kesannya menjijikan. Namun, masih ada yang menyarankan memakai cara unik ini. Anak diharapkan tidak menyusu lagi saat mencium bau dari celana dalam ayahnya.

 

Kembali lagi kepada tujuan menyapih dalam rangka mengeratkan ikatan bati anak dan ibu, tujuh cara tersebut tidak direkomendasikan. Apapun itu, menyapih adalah soal dua perasaan, yaitu anak dan ibu. Kenapa ibu juga? Karena ibu yang jiwanya sehat, tentu melahirkan anak yang sehat pula. Memperbanyak ilmu dalam mengasuh anak diharapkan agar para ibu tidak tersesat memakai cara-cara unik di atas.

Uncategorized

Info Lomba: Blog Competition Herbadrink Berhadiah Jutaan Rupiah


Halo kawan-kawan semua. Sudah tahu minuman herba berbentuk serbuk yang satu ini? Yes, namanya herbadrink. Variannya ada banyak loh, Sari Jahe, Sari Temulawak, Lidah Buaya. Dan kabar gembiranya, Herbadrink sedang mengadakan blog competition!

banner

Mau tahu apa saja mekanisme dan syaratnya? Yuk cek tulisan di bawah ini:

TERM CONDITION

Penulisan

  1. Peserta membuat ulasan (review) sesuai dengan tema lomba dengan gaya bertutur dan dikemas senatural mungkin (soft selling) dengan menyertakan image herbadrink sari jahe, temulawak, atau lidah buaya.
  2. Tidak menyebutkan kata “Herbadrink” di bagian judul tulisan.
  3. Panjang tulisan minimal 500 kata dan maksimal 1.500 kata (sudah termasuk keterangan gambar)
  4. Tulisan mengandung kata “Sari jahe, sari Temulawak, dan lidah buaya” dan “Herbadrink” yang di-hyperlink ke http://herbadrinknatural.com.
  5. Tulisan blog yang dilombakan boleh lebih dari 1 (satu) dan tidak ada batasan maksimal.
  6. Tulisan tidak mengandung sentimen negatif kepada siapapun.
  7. Tulisan bukan hasil plagiat dan tidak boleh mengandung materi yang berpotensi memicu konflik SARA.
  8. Herbadrink berhak menjadikan tulisan peserta sebagai bagian (atau keseluruhan) materi promosi.
  9. Foto Sari Jahe, Sari Temulawak, dan Lidah Buaya Herbadrink yang digunakan merupakan hasil foto milik sendiri.
  10. Peserta membagikan tulisannya ke media sosial masing-masing secara publik (tidak private).

Peserta

  1. Berkewarganegaraan Indonesia dan tinggal di Indonesia.
  2. Memiliki blog aktif dengan usia blog minimal 6 bulan.
  3. Memiliki akun Twitter dan Facebook. Kemudian mengikuti (follow) akun twitter Herbadrink dan menyukai fanpage Herbadrink.
  4. Blog yang digunakan merupakan blog pribadi. Bukan blog komunitas atau blog yang dikelola bersama orang lain (kecuali Kompasiana)
  5. Peserta melakukan pendaftaran di microsite Herbadrink Blog Competition.

Untuk info lebih lengkap, bisa klik link ini yaa http://herbadrinknatural.com/blogcompetition/

Yang mau pada ikutan, good luck ya!

Uncategorized

ASUS VIVOBOOK FLIP TP410: Laptop Keren Rasa Tablet


“Menikmati hidup sebagai seorang ibu bisa juga dari hal-hal kecil, seperti menuliskannya dalam blog pribadi.”

– Dhita Erdittya –

#2018gantilaptopASUS

img_20180907_193943
Pojok kerjaku, di antara mimpi #2018gantilaptopASUS

Laptop Jadul dan Mimpi di Dalamnya

Sudah beberapa bulan ini aku membayangkan punya tablet. Buatku, menonton film dan video buat anak akan sangat terbantu jika memakai gadget jenis ini.

“Ay, aku nabung beli tablet ya? Boleh?”

Suami menganggukkan kepala tanda setuju. Yeay! Akhirnya bisa beli juga. Namun, beberapa bulan ke depan, bukan tablet yang ada di tangan, tapi bayar cicilan ini dan itu yang bikin tabunganku menipis. Yaaah, enggak jadi kebeli lagi.

Daripada manyun, aku pun nyoba browsing lagi di marketplace kesayangan. Nyari tablet murah gitu. Eh kok nemu tablet tapi bisa jadi laptop. Wih! Ini keren banget. FYI, laptopku yang jadul sudah menemaniku hampir 8 tahun lamanya. Baterai udah soak, kudu diisi saat dipakai. Beratnya lumayan bikin ngos-ngosan, apalagi sekarang kalau ke mana-mana bawa bocah. Yang pastinya kayak mau pindahan aja kalau ke mana-mana bawa laptop jadul.

Makanya, tablet bakal memberiku space buat tas yang isinya keperluan bocah. Selain spesifikasi yang sudah jadul, laptop jadulku memang sudah kebanyakan isi. Beberapa bulan yang lalu, si hitam abu ini sudah main ke tukang servis. Tetap saja, dia minta simbaru, simpan saja aku dan beli baru. Hihihi.

Selain itu, aku sering pakai laptop buat nulis. Entah nulis buat blog juga buat naskah buku. Sayang, untuk Microsoft Office aja, laptopku sering hang. Pernah di-service sekali, tetep aja berat. RAM-nya 2 GB aja hahaha. Apalagi membayangkan belajar edit gambar buat bahan tulisan di blog, hahaha, mana bisa kalau pakai laptop jadulku. Sering banget juga pengen ngedit video bocah, lalu disimpan di media sosial. Fix, ini semua cuma mimpi kalau harus pakai laptop jadulku.

‘Bertemu’ Laptop Keren ASUS VIVOBOOK FLIP TP410

Back to browsing-an via marketplace, aku ketemu ASUS VIVOBOOK FLIP TP410 yang menyihir. Bayangin aja, ada laptop yang ringannya aduhai banget, cuma 1.6 kg aja! Udah gitu materialnya aluminium yang tipis banget (sama buku yang biasa kubawa aja tebelan bukunya). Lalu, tampilan Full HD dilengkapi teknologi wide-view 178° bikin warna dan kontras tetap hidup dan tajam, bahkan dilihat pada sudut yang tajam. Beneran bikin nonton HD film berasa mewah. Aaaaaahhhh! Bisa loh ditaruh di meja kayak kalender gini.

TP410_25.jpg
Gaya Shared Viewer

Bisa juga ditaruh tegak tanpa terhalang keyboard kayak gini. Cakepnyaaa!

TP410_15.jpg
Gaya Media Stand

Enggak hanya 2 tampilan itu loh, laptop ini punya 2 tampilan lain yaitu, Powerful Laptop dan Responsive Tablet.

4-mode-tampilan-vivobook-flip-tp410
Tampilan keempatnya bikin hati kesengsem!

ASUS VIVOBOOK FLIP TP410 memiliki layar 14 inci dengan tampilan ultra-tipis berfitur “Nanoedge” . Fungsinya memaksimalkan ukuran layar, juga meminimalkan ukuran body-nya! Ah, ini bener-bener laptop keren. Bayangkan juga, si bocah lagi nonton video Tayo kesukaannya pakai ini, pasti dia bakal seneng banget. Laptop jadulku kan, agak nyebelin kalau buat nonton. Kadang enggak jalan karena berat.

Oya, ASUS VIVOBOOK FLIP TP410 ini punya prosesor hingga Intel Core i5 generasi ke 7 dan memori hingga 8GB (gilak! laptop jadulku aja cuma 2 GB). ASUS VIVOBOOK FLIP TP410 ini memberikan kinerja hemat dan juga hemat energi. Penyimpanan HDD enggak nguatin hingga 1TB! Yang memori isinya kenangan anak dan suami, mana suaranya? Nih, worth it buat dibeli.

Buat para blogger enggak jarang kudu pakai gambar ‘manis’ untuk mendukung performa tulisan kan, ya? Nah, laptop jadulku aja buat nulis word terkadang hang. Kayanya grafisnya yang enggak mumpuni. Beda sama ASUS VIVOBOOK FLIP TP410 ini, grafis didukung Integrated Intel HD Graphics, yang mana kartu grafis terintegrasi cocok untuk para blogger yang megolah grafis sehari-hari. Juga termasuk menonton drama Korea seperti diriku atau editing video, game 2D dan pengolah kata umum juga.

Kapan hari, aku perlu hapus Photoshop-ku waktu itu karena berat kalau digabungin sama Adobe Indesign. Kalau pakai ini, tak perlu drama hapus-hapus deh! Dengan ASUS VIVOBOOK FLIP TP410 ini tentunya bisa banget menghasilkan suatu konten yang kreatif tanpa terkendala. Laptop ASUS VIVOBOOK FLIP TP410 ini fingerprint sensor loh. Penting banget buat privasi plus alat kendali. Saat aku pengen laptop “hanya milikku”, aku bisa sepenuhnya aman.

Sudah deh, daripada pusing-pusing, mari ikhtiarkan tagar ini #gantilaptopasus2018 !

vivobook-flip-TP410-blog-competition

ASUS Laptopku Blogging Competition by uniekkaswarganti.com

Uncategorized

Karena Saat Kalian Tiada, Ke Mana Aku Meminta Cinta Bapak dan Ibu (Lagi)


Bahwa saat orang lain sudah tak berbapak ibu, saat itulah aku sadar, tak selamanya aku selalu memiliki kalian di dunia ini.

w644
Karena Bapak Pun Menjadi “Bapak” untuk Pertama Kalinya

Bapak, Ibu.

Aku dulu membenci kalian. Entah dalam beberapa tahun berlalu, bara itu ada di hati. Aku tak sadar pada awalnya. Namun, saat aku terlalu meledak bagaimana menceritakan hal menyebalkan yang kalian lakukan, aku sadar. Saat aku tak merasa bersemangat untuk membahas rasa cinta untuk kalian, aku tahu. Bahwa aku tak memiliki sesuatu, yang orang lain miliki untuk orang tuanya. Cinta terhadap Bapak Ibunya.

Beberapa bulan ini, aku merampungkan sebuah buku. Di sana adalah catatan yang pernah aku rasakan dari pola asuh kalian. Bagaimana aku kecewa, bagaimana aku merasa tertinggal karena kalian, bagaimana aku merasa tak seutuhnya dicintai.

Tahukah kalian, aku sudah merasa mengobati luka itu. Aku sudah merasa memaafkan kalian. Bahkan, aku sudah merasa bahwa hubungan kita baik-baik saja. Namun, ternyata itu hanya pikiran sadarku saja. Di pikiran bawah sadarku, aku masih mengutuk.

Padahal, aku tak tahu bagaimana perjuangan kalian dulu membesarkanku. Bahwa aku sekarang seorang ibu. Aku tahu bagaimana lelahnya merawat anak, apalagi saat kenyataan tak sejalan dengan harapan. Tangisan yang memekakkan telinga, permintaan aneh saat pikiran dan hati lelah, atau hal yang sudah jelas dilarang tapi masih dilakukan sang buah hati. Dan aku, masih saja merasa aku ini orang tua hebat dan memandang sebelah mata atas berpuluh tahun rawatan tangan kalian membelaiku.

Bahwa saat orang lain sudah tak berbapak ibu, saat itulah aku sadar, tak selamanya aku selalu memiliki kalian di dunia ini.

Sungguh. Beribu maaf takkan bisa kugantikan dengan semua kelakuan nakalku, dengan semua ucapan kasarku, dengan semua pertentangan dan sikap durhakaku.

Bapak, Ibu. Dengan semua itu, masihkah kallian membuka kesempatan untukku membalas jasamu. Walau aku tahu, jasamu takkan terbalas.

Bapak, Ibu, aku merindukan kalian. Doaku selalu menyertai setiap langkah kalian. As always.

Uncategorized

Mulai menulis (lagi)


Assalamu’alaikum wr wb.

seperti rumah yang sudah lama ditinggal kosong, begitu pula blogku ini. Wah harus banyak belajar lagi nih untuk memulai menulis blog. Banyak banget waktu yang sudah terlewati, dan tadaaaaaa aku sekarang menjadi ibu. Sensasinya luar biasa. Hihihi agak lebay sih. Kandungan sudah berusia 26w, sudah mulai berat dibawa apa-apa, entah tidur, duduk, bersila. Dedek aktif banget bergerak. Sampai-sampai menonjol di perut dan membuat bundanya seperti melilit aneh di area perut. Tulisanku sepertinya sudah melenceng jauh dari judulnya, yah beginilah orang yang suka tidak fokus. Hahaha. Yang penting intinya memulai menulis apa yang ada di pikiran. Sekian dulu ah, sudah malam. Biar ga kesiangan subuhan. Nite all. 🙂

Uncategorized

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI


Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan. Bagi industri-industri besar, seperti industri pulp dan kertas, teknologi pengolahan limbah cair yang dihasilkannya mungkin sudah memadai, namun tidak demikian bagi industri kecil atau sedang. Namun demikian, mengingat penting dan besarnya dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan, penting bagi sektor industri kehutanan untuk memahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair. Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Continue reading “PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI”